Oleh: akirawijayasaputra | April 17, 2009

peristiwa/Teologi Situ Gintung

Tangisan warga korban Situ Gintung, hingga kini masih terngiang. Bukan hanya di telinga dan mata kita, melainkan lebih dalam lagi di batin kita. Ada banyak hal yang kemudian dapat menjadi petikan pelajaran bagi kita, untuk memahami simbol-simbol dari langit, yang bukan saja dipahami secara syariat tetapi juga hakikat. Tujuannya, agar dengan peristiwa Situ Gintung bukan membangkitkan prasangka buruk pada “langit” tetapi sebaliknya dapat menguatkan sikap berketuhanan kita (teologi).

Paling tidak, ada beberapa catatan yang patut menjadi renungan. Pertama; melalui peristiwa yang menelan korban ratusan nyawa itu, membangkitkan kesadaran, bahwa di balik tampilan fisik dunia, yang dihitung dengan logika dan sebab akibat, ada kekuatan lain (kegaiban) yang wajib kembali dipercayai. Dan itu yang mungkin selama ini sedang terlupakan.
Kedua, musibah Situ Gintung adalah sebuah skenario besar dari langit untuk mengembalikan manusia agar kembali mengenal kegaiban-Nya yang selama dalam kurun waktu tertentu terlibas oleh kesibukan materi, sehingga nilai-nilai Ilahiyah lenyap dari getaran hati dan ruang batin kita. Inilah pesan dari langit, bukan saja bagi korban Situ Gintung, tetapi juga bagi semua manusia yang mampu menangkap pesan gaib dari peristiwa ini.
Ketiga; petaka menjelang fajar itu, menjadi bagian dari solidaritas Tuhan pada manusia. Betapa sikap manusia zaman kini sudah sedemikian ego, sudah sedemikian individualistik, sehingga untuk menciptakan kebersamaan, Tuhan harus mengutus malaikat untuk membongkar tanggul Situ Gintung. Dengan jebolnya tanggul Situ Gintung, secara spontanitas muncul semangat solidaritas antara satu sama lain. Ada keinginan saling berbagi, saling tolong, yang mungkin sebelum ada peristiwa Situ Gintung kita memilih mengumandangkan ego untuk kemudian tidak saling berbagi. Merasa bahwa harta dan benda, atau nyawa seolah milik kita. Sehingga kita acapkali memegang materi dengan ke-akuan kita, bukan untuk penebar manfaat. Dengan berbagai sikap inilah, sehingga Tuhan tengah memaksa kita untuk saling berbagi, dengan menciptakan musibah Situ Gintung.
Keempat; musibah Situ Gintung untuk mengajari hamba-Nya agar kembali pada kesadaran kolektif, bukan kesadaran individualistik. Kesadaran antarsesama untuk saling memperhatikan kelestarian lingkungan. Untuk saling memberi dan menyadarkan setiap hamba untuk tidak sombong antarsesama. Betapa tidak? Saat ini ada sekitar 600-an lebih warga yang berada dalam pengungsian. Dan sebagian di antara mereka adalah keluarga elite dan berkecukupan. Sekarang, dengan tidur di ruang-ruang darurat seadanya. Masih pantaskah kesombongan diri atas kepemilikian duniawi yang melimpah ruah mereka katakan dapat menolong? Lantas mana jabatan dan kewenangan yang mereka miliki? Ketika musibah datang, tak ada pembedaan perlakuan yang dilakukan Tuhan antara pejabat dengan penjahat. Antara si kaya dan si miskin. Antara penguasa dan yang dikuasai. Semua dihempas oleh banjir bandang yang datang tiba-tiba.
Kelima; tumpahnya air sekitar 2 juta kubik dari Situ Gintung, sebagai bentuk kecintaan Tuhan terhadap hamba-Nya. Dengan peristiwa ini, sebagian umat yang terkena musibah tengah dimanusiakan. Sebab tidak ada manusia yang tidak mengalami musibah dan kesedihan. Bila sebagian manusia hanya berkeinginan untuk sehat, senang dan tanpa mengalami musibah, sama halnya manusia ingin menjadi malaikat. Tetapi Tuhan tetap saja Tuhan Sang Penguasa Alam. Ia menginginkan agar hambanya tetap menjadi hamba (manusia) dan bukan menjadi malaikat. Dengan memberi musibah inilah, Tuhan sedang menyadarkan status kemanusiaan dan kehambaan sebagian umat, agar kembali sadar terhadap tugasnya; menjalani perintah-Nya sebagai hamba.
Keenam; di tengah hiruk pikuknya dunia, sebagian hamba sering terlupa menyebut asma Tuhan. Mengucap ‘alhamdulillah’ sehabis membuang air kecil dan air besar saja, acapkali kita abaikan. Dan ketika kelalaian hamba sampai di puncak kenikmatan duniawi, Tuhan menebar pesona dengan menggelontorkan jutaan kubik air, lalu sebagian hamba berteriak memanggil nama Tuhan. Ya Allah. Astaghfirullah. Sungguh! Dalam genangan air yang telah menelan harta benda duniawi Tuhan sedang membangkitkan kembali kecintaan sebagian hamba-Nya. Nama Tuhan selama ini sudah terselip di antara hingar bingarnya kecintaan dunia, sehingga sebagian hamba lupa dengan kecintaannya terhadap Sang Pencipta. Panggilan cinta itu kini kembali menyeruak melalui Situ Gintung.
Ketujuh; jebolnya tanggul Situ Gintung yang sejak zaman Belanda tidak meggeliat mengingatkan kita pada peristiwa, ketika Musa ingin belajar pada Nabi Khidir. Ketika Khidir membocori perahu dan membuang beberapa papannya ke laut. Musa pun protes! Di kali lain, Khidir kemudian membunuh anak kecil pada sebuah kebun yang di mata Musa tidak punya salah apa pun. Dan di saat lain, Khidir juga membangun rumah reot di kampung yang dihuni kaum bahil.
Protes Musa terhadap perilaku Khidir karena Musa tidak memiliki data-data gaib yang dimiliki Khidir. Musa melihat dari kacamata syariat. Sementara Khidir memiliki pemahaman hakikat. Baru kemudian Khidir menjelaskan semuanya. Bahwa di balik musibah justru ada rahmat yang besar. Pemilik perahu akan menganggap Khidir, membocori perahu suatu bencana. Tetapi sebenarnya di balik itu ada kenikmatan, yaitu; kenikmatan yang akan diketahui setelah terjadinya peperangan di laut, dimana seorang raja akan merampas semua perahu-perahu, lalu membiarkan perahu yang rusak. Dengan cara Khidir melubangi dan merusak perahu justru menyelamatkan bekal para penumpang dari rampasan raja lalim yang hendak menghadangnya.
Demikian juga ketika Khidir membunuh anak kecil. Sebagian orang menganggap membunuh anak kecil secara syariat menjadi musibah. Tetapi dalam hakikat, kematiannya membawa rahmat bagi mereka, karena Tuhan di kemudian hari akan menggantinya dengan anak saleh yang dapat melindungi dan memelihara keluarga mereka pada saat mereka menginjak usia dewasa.
Musibah Situ Gintung menjadi bagian dari fragmen dunia yang sebagian orang akan menganggap peristiwa itu adalah laknat. Tetapi olah pikir yang demikian itu sebaiknya kita putar, sehingga peristiwa itu bukan sebagai laknat tetapi justeru menjadi rahmat dan kenikmatan, yaitu segumpal kenikmatan yang hanya bisa dipahami dengan keyakinan (hakikat).
Kebijakan-kebijakan langit yang secara lahiriyah sering diterjemahkan sebagian umat sebagai tindak kekerasan Tuhan, justeru menyimpan hakikat tersembunyi berupa rahmat dan kasih sayang. Demikianlah, aspek lahiriah sering bertentangan dengan akal sehat manusia. Tetapi sebenarnya disitulah ada pesan batiniyah yang sebenarnya tengah dibentangkan Tuhan kepada setiap manusia. Hal inilah yang sering tidak kita ketahui, sebagaimana Musa yang tidak melihat hakikat tindakan yang dilakukan Nabi Khidir. (*)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: