Oleh: akirawijayasaputra | April 16, 2009

Mengapa Manusia Hidup

Tujuan manusia hidup adalah untuk menyembah dan beribadah kepada Allah. Hal ini sesuai dengan wahyu, dibenarkan juga oleh akal dan hati manusia. Dengan menyembah dan beribadah kepada Allah, manusia mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat

Hari ini kita sangat kurang memahami ajaran Islam, oleh karena itu kita hidup dalam gelap gulita, dalam suasana yang tidak ada panduan. Dengan begitu bukan saja kita akan terjun ke neraka, tapi sejak di dunia lagi kita telah berada dalam neraka.

Suatu hal yang menjadi asas dalam ajaran Islam, yaitu mengapa manusia hidup. Merupakan satu pertanyaan yang memerlukan satu jawaban yang tepan. Karena jika manusia yang hidup di muka bumi Tuhan ini tidak dapat memberi jawaban yang betul, manusia itu tak pandai hidup. Mereka sekedar pandai maju, pandai berkebudayaan tapi tak pandai hidup. Jika manusia gagal hidup di dunia, maka manusia akan gagal hidup di akhirat.

Karena itu bagaimana kita memperoleh jawaban yang tepat ? Ada orang mengatakan, kita tanya saja pendapat akal. Kalau kita lihat pertanyaan itu mudah tapi jawabannya berat. Bukan saja akal tidak mampu memberikan jawaban yang tepat. Bahkan bila beberapa orang memberikan jawaban menurut akal masing-masing, maka akan timbul perbedaan pendapat. Jadi kalau kita bertanya pada akal, maka akal tidak mampu, karena akal kedudukannya lemah, tidak semua dapat difikirkan terutama yang berkait dengan hal-hal yang ghaib, hari akhirat, syurga neraka dll, walaupun manusia itu mempunyai akal yang pintar sekalipun.

Kita sebagai orang Islam memiliki panduan hidup yang diberikan Allah kepada kita, yaitu yang terdapat di dalam Al Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Jadi supaya kita tidak meraba-raba, supaya tidak letih akal kita berfikir, supaya kita tidak mencari-cari, lebih baik kita bersandar dengan apa yang telah Allah beri kepada kita. Itulah jawaban yang tepat menurut Al Quran yang patut menjadi pegangan kita, yang menjadi keyakinan kita, serta amalan perjuangan kita, supaya kita mendapat keselamatan.

Dalam Al Quran disebutkan sesungguhnya yang benar itu datang dari Allah (An Nisaa’ 170 ). Sebab itu kita terima sajalah jawaban dari Allah. Semoga dengan begitu kita dapat keselamatan di dunia dan akhirat.

Allah telah memberikan jawaban kepada kita,

“Sesungguhnya tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah (beribadah) kepadaKu” (Adz Dzaariyaat : 56)

Dengan ayat Al Quran tersebut yang merupakan wahyu yang diturunkan kepada Rasul untuk umat yang paling akhir, disebutkan kita diciptakan oleh Allah adalah untuk beribadah, ataupun untuk mengabdikan kepada Allah, dengan kata lain untuk tunduk dan patuh pada perintah Allah.

Dengan ayat tersebut, maka dalilnya kuat, hujjahnya pun kuat. Tapi yang sebenarnya kalau kita bahas secara akal, secara mantiq atau secara psikologi, maka akal kita pun mengakui patut manusia menyembah Allah. Akal menyatakan setuju, bahkan hati kecil juga ikut setuju untuk menyembah Allah.

Secara akal, secara perasaan, secara mudah, dapat dibuktikan bahwa akal setuju dan hati pun setuju manusia menyembah Allah, selain dalil yang kuat dari Al Quran. Contohnya, bagaimana kalau ada orang yang memanggil kita, saudara adalah hamba Allah. Bagaimana perasaan kita, bagaimana rasa hati kita kalau orang panggil kita hamba Allah. Akal mau menerima, hati kecil juga turut setuju, walaupun pada pelaksanaannya kita tidak pernah menyembah Allah. Walaupun kita tidak pernah membesarkan Allah, tak pernah patuh, tapi hati kita terhibur dengan sebutan hamba Allah.

Mengapa akal setuju, dan hati kecil dapat menerima, sebab karena Allah jadikan kita memang untuk menjadi hambaNya. Jadi apa yang disetujui oleh Allah, disetujui oleh akal dan hati. Sebaliknya apa yang disetujui oleh akal dan hati, disetujui oleh Allah.

Tapi bagaimana kalau suatu ketika, orang memanggil kita, saudara adalah hamba mobil, hamba wanita, hamba rumah, hamba nafsu. Bagaimana pendapat akal kita, bagaimana rasa hati kita. Akal kita tak setuju, bahkan hati tak setuju. Bukan hanya tak setuju, tapi hati pun rasa sakit. Kalau orang tuduh kita hamba selain Allah, kalau selama ini sudah sakit, bahkan mungkin dapat meninggal dengan seketika.

Mengapa ? kal tidak setuju, hati tak setuju, karena Allah tidak setuju apa yang tidak disetujui oleh akal dan hati. Dan sebaliknya apa yang tidak disetujui oleh akal dan hati, tidak disetujui oleh Allah.

Karena itu mau tidak mau, kita mesti menyembah Allah karena Allah bersetuju, akal bersetuju dan hati bersetuju. Jadi kalau manusia tidak mau menyembah Allah, tidak mau mengabdikan diri pada Allah, tidak mau tunduk dan patuh pada Allah, dia bukan saja menentang Allah, bahkan menentang akal dan hatinya, hakikatnya orang itu menentang dirinya sendiri. Kalau orang itu menentang dirinya sendiri, dia tidak akan dapat kebahagiaan, walaupun pangkatnya tinggi, rumahnya besar, jabatannya tinggi dan hartanya banyak.

Buktinya banyak. Kita lihat hari ini bangsa-bangsa yang dikagumi karena banyak kemajuan di bidang ekonomi, membangun, banyak orang terkenal, tapi sebagian besar penduduknya mati bunuh diri, ada yang 50 %, 60 %, bahkan 75 %. Mereka sudah kehilangan kebahagiaan. Kebanyakan mereka orang yang terkenal tapi hidupnya frustrasi.

Mengapa terjadi demikian ? Karena mereka sama sekali tak mengenal Allah, tidak mau menyembah Allah. Mereka menentang dirinya sendiri sehingga tak dapat kebahagiaan. Karena itu kita mesti mengenal dan menyembah Allah, untuk selamat di dunia dan akhirat.
‹ Mencari Kebenaran up Musuh Batin Manusia ›

* Aqidah

* Printer-friendly version
* Add new comment
* 3920 reads

Comments
Sun, 2008-06-01 20:26 — rudal91 (not verified)
Mengapa atau Apakah pertanyaan ?

Duhai hamba,

Apakah yang dimaksud dengan urusan akhirat dan apa pula urusan dunia ?

Apakah perbedaan kedua urusan ini ?

Apakah perbuatan yang disebut ibadah dan bukan ibadah ?

Garis-garis terilhat dalam wajah
adakah gerangan gurunya
guru terbaik pengalamnya
tak ada yg menolak ini
namun berguru pada Rosululloh adalah harapan
Hanya DIA yang meng-anugrahkan

Best Regards
erawan

* reply

Mon, 2008-06-02 11:04 — Anonymous (not verified)
Jadikan Dunia Bernilai Akhirat

DUNIA yang nampaknya hebat
Cantik dan indah mempesona setiap manusia
Kita manusia saja yang merasa cantik dan indah
Pada Tuhan tidak ada nilainya sekalipun senilai debu
Atau senilai sebelah sayap nyamuk
Kalau dunia ini ada nilai pada Tuhan walaupun seberat debu
Nescaya Tuhan tidak akan memberinya kepada orang kafir
Begitu juga kalau orang Islam
Di waktu taat Tuhan beri, di waktu durhaka Tuhan tarik
Adakalanya Tuhan beri, adakalanya Tuhan tahan
Nescaya parahlah manusia ini
Tapi pada Tuhan, dunia sedikit pun tidak ada nilai di sisi-Nya
Orang kafir pun Allah Taala beri makan
dan berbagai-bagai nikmat lagi
Bahkan adakalanya orang kafir lebih banyak diberi daripada orang beriman
Begitulah nilai Tuhan terhadap dunia
Oleh karena dunia ini tidak ada nilainya di sisi Allah
Tuhan menyuruh kita berilah dunia ini nilai Akhirat
Jadikan dunia ini jambatan ke Akhirat
Jual dunia ini untuk beli Syurga
Kalau tidak begitu, dunia ini tidak ada harga
Dunia ini kalau tidak dijadikan Akhirat
Kita hidup sia-sia, dunia akan binasa
Kalau kita gunakan dunia untuk Akhirat
Dunia sudah ada nilai Akhirat,
ia kekal abadi di sana

* reply

Sat, 2008-05-10 00:12 — Abdul Qodir Jaelani (not verified)
Tentang Adz Dzaariyaat : 56………

Saya setuju dengan tulisan “Mengapa Manusia Hidup” di atas. Namun, tentang ayat 56 surat Adz Dzaariyaat tersebut saya pernah mendapatkan penjelasan yang cukup menarik dilihat dari segi tafsir khususnya Ilmu Bahasa Arab. Jika kita baca redaksi aslinya di Al Qur’an kita akan menemukan kata “Liya’buduun” dalam ayat tersebut. Biasanya dalam Bahasa Indonesia sering diartikan dengan “untuk menyembah (beribadah) kepadaKu”. Yang menjadi sorotan dalam hal ini adalah huruf lam-nya. Dalam bahasa arab huruf lam tersebut bisa berarti lam lil ghordi “supaya” atau “untuk” dan lam lil ‘aqibat “akibat”. Ulama ahli Tauhid menafsirkan ayat tersebut bahwasanya kegiatan ibadah yang ditaklifkan kepada manusia adalah “akibat” dari penciptaan Allah terhadap manusia. Berarti lam yang digunakan adalah lam lil ‘aqibat bukan lam lil ghordi. Jika pehamaman ayat tersebut dengan menggunakan lam lil ghordi, maka seolah-olah Allah mempunyai tujuan “ghorod” ketika menciptakan manusia dan jin yang tidak lain tujuan itu adalah “untuk menyembah (beribadah) kepadaKu”. Tentunya pehamaman itu bertentangan dengan ilmu tauhid yang menyatakan bahwa segala Af’al (perbuatan-perbuatan) Allah tidak memiliki “ghorod” atau tujuan. Jika Af’al Allah ada “ghorod”-nya tentunya Allah membutuhkan kepada sesuatu hal. Jika Allah membutuhkan sesuatu hal, maka Allah itu lemah dan itu tidak mungkin. Analoginya adalah ketika kita membuat meja “untuk” menulis. Maka kita mempunyai tujuan atau “ghorod” terhadap sesuatu hal (menulis) yang kita butuhkan.
Nah, jika kita mengartikannya dengan lam lil ‘aqibat (akibat) cukup masuk akal. Pentaklifkan ibadah oleh Allah adalah suatu akibat dari penciptaan manusia dan jin oleh Allah sendiri. Ibadah yang dilakukan oleh manusia itu hasilnya akan dinikmati oleh manusia sendiri berupa pahala surga nanti di akhirat dan sama sekali Allah tidak mengambil manfaat dari ibadah tersebut. Dengan kata lain Allah tidak butuh ibadah manusia dan Allah juga tidak mempunyai bermaksud “tujuan” kepada ibadah manusia tersebut. Sesuai dengan akal bukan jika kita mengartikannya dengan lam lil ‘aqibat. Itulah yang saya fahami dari penafsiran ayat Al Qur’an tersebut sesuai dengan bahasa arab. Bahasa Arab memang sulit untuk difahami dan ma’na Al Qur’an memang bisa memiliki penafsiran yang berbeda-beda juga sesuai dengan latarbelakang kemampuan penafsirnya khususnya dalam Bahasa Arab. Mudah-mudahan walaupun kita mengartikannya dengan kata-kata “kecuali untuk menyembah (beribadah) kepadaKu”, tapi kita memahaminya dengan pehamaman yang benar. Hanya ingin sedikit menulis sih, mohon maaf apabila ada yang salah dan ditunggu masukannya.

Wallahua’alam
Allahummahdinaa……….
A’aadzanallahuwaiyyakum ajma’in…aamiin…

* reply

Mon, 2008-05-12 15:57 — whasid (not verified)
mentafsir Quran

Hm…jadi inget jaman-jaman SMP pas ikutan ngaji tafsir Ibnu Kastir.
Terkadang Pak Kyai suka menerangkan maksud pemakaian huruf menurut tata bahasa Quran.
Sophisticated emang.

Memang bahasa Indonesia amat tidak memadai. Makanya orang jadi ngawur pemahamannya kalau mbaca terjemah Quran terus dia tafsirkan sendiri tanpa punya ilmu alat yang berupa ilmu tata bahasa Arab.

Tak semua orang Allah bagi kemampuan mentafsir Quran. Selain ilmu alat harus lengkap (nahwu, sorof, mantik, nasih mansuh, dll) juga perlu dibantu ilham. Sehingga apa yang dipahami dari Al Quran itu bisa DIAMALKAN.

Membaca Quran itu SUNNAH, tetapi mengamalkan Al Quran itu WAJIB.

beruntunglah kita ketika bisa menemukan seorang guru mursyid yang tidak saja mampu memberi kita kepahaman mengenai Al Quran tetapi juga memberikan contoh mengamalkan Al Quran.

* reply


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: